Memaknai Puasa di Tengah Endemi Corona

Jadi seorang muslim kita yakini jika apa sebagai perintah Allah ialah kebaikan buat pemerannya. Tuhan jadi rabb kita sudah memandang perlu kita buat jalankan beribadah puasa semasa 1 bulan penuh pada bulan Ramadhan, serta kebaikan dari beribadah ini tak ditujukan buat Tuhan, sebab Ia tak perlu beribadah kita, semua berpulang pada kita berbentuk pahala (ujrah) yang kita capai di dunia ini atau di akherat kedepannya. Puasa sendiri jadi suatu bentuk kegiatan sudah diketahui lama oleh umat manusia. Ajaran berpuasa berada pada semua kebiasaan agama serta keyakinan manusia dengan beberapa ragam mempunyai bentuk. Puasa ada yang berkenaan dengan objek spesifik, seperti makanan, minuman serta sikap. Puasa ada yang berkaitan dengan dimensi waktu seperti waktu serta jumlah hari. Di Barat dikenal juga puasa buat kesehatan seperti diet serta puasa sebelum operasi.

Dalam Islam, puasa tentu saja bukan hanya tujuan yang karakternya duniawi seperti kesehatan. Keharusan puasa untuk mendapati ridha Allah, sebab Allah Ta’ala sama seperti tekad berpuasa yang harus diucapkan pada malam hari sebelum menjalan beribadah puasa. Dalam Al Qur’an pula diutamakan jika keharusan berpuasa untuk mendapati derajat taqwa (Q.S. Al Baqarah: 183). Puasa dalam Islam disuruh semasa 1 bulan penuh di bulan Ramadhan, yang pengerjaannya mulai keluar fajar sampai tenggelam matahari. Semasa jalankan beribadah puasa, pemerannya tak diizinkan penuhi kepentingan fundamental manusia (physical needs) menurut teorinya Abraham Maslow, adalah makan, minum, serta sex. Uraian puasa sama seperti disebutkan di atas, dalam kebiasaan sufi, disebutkan paling minimalis buat melepas keharusan syariat (level pemula). Puasa yang bertambah tinggi, level spesial, adalah jaga indera kita dari beberapa hal yang tak sewajarnya dikerjakan, seperti indera pendengaran, pandangan, penciuman, tangan, kaki serta organ badan yang lain. Puasa yang level tertinggi, sangatlah spesial, sebagai amaliah beberapa sufi, adalah jaga hati dari tujuan kecuali Allah SWT.

Inti puasa memang pengaturan diri. Pengaturan pada gilirannya berbuah taqwa. Pengaturan diri perlu kesabaran yang tinggi serta ini bertambah bertambah ditengah-tengah endemi corona. Pertama, sabar dalam berpuasa serta dua-duanya sabar dalam hadapi endemi corona. Endemi corona bukan hanya berdimensi pada sisi kesehatan, namun juga beresiko besar pada sisi yang lain, ekonomi, sosial, budaya, agama, serta politik. Dengan cara sosial budaya, kita tidak bisa lagi berhubungan yang lain, dengan cara ekonomi, banyak yang penerimaannya menyusut, lahirnya pengangguran baru, tingkat kemiskinan naik mencolok. Situasi ini mengundang ketidaktetapan pada beberapa perihal. Kita tak dapat meramalkan berapa lama endemi ini berjalan, berapa lama kita mesti stay home, melakukan kegiatan dari rumah. Berikut ini utamanya pengaturan diri, yang dalam puasa pula dilatih buat dibiasakan. Kecuali dimensi pengaturan diri, prosedur puasa sama seperti yang dimengerti umat manusia punyai dimensi positif berwujud pengobatan (healing). Hingga seringkali disebut berpuasa itu bikin sehat. Dalam sufi healing serta kebiasaan kedokteran di dunia timur dimengerti jika badan punyai prosedur sendiri dalam mengendalikan dianya sendiri.

Dengan cara ajaib disebut jika penyembuhan yang sangat efisien itu dikerjakan sendiri oleh badan kita. Badan kita dicetak oleh Tuhan dengan sangatlah komplet serta punyai prosedur self healing. Puasa jadi ajaran Tuhan berikan area pada badan kita istirahat, melaksanakan perbaikan diri. Hingga kita bisa menekuni kehidupan pada sesi seterusnya dengan baik. Pada gilirannya disaat ada endemi seperti covid-19 yang ada, dengan cara fisik serta psikis kita siap, lebih puasa kecuali punyai nilai jadi buat kesehatan fisik, yang paling utama ialah penyiapan mental kita berwujud sikap sabar serta pengaturan diri, dan nilai spiritual berwujud tujuan hidup cuma pada Allah SWT. Sama seperti ikrar tiap muslim dalam do’a iftitah pada tiap sholat: Kenyataannya sholatku, ibadahku, hidup serta matiku cuma buat Allah, Tuhan penguasa alam. Wallahu ‘alam bi al shawab.

Baca juga: Keutamaan Membersihkan Masjid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *